BAB I
PENDAHULUAN
Belajar sebagai proses atau
aktivitas disyaratkan oleh banyak sekali hal-hal atau faktor-faktor.
1)
Faktor-faktor
yang berasal dari luar diri pelajar, dan ini masih lagi dapat digolongkan
menjadi dua golongan, dengan catatan
bahwa overlapping tetap ada, yaitu:
a.
Faktor-faktor
nonsosial
b.
Faktor-faktor
sosial
2)
Faktor-faktor
yang berasal dari dalam diri si pelajar, dan inipun dapat lagi digolongkan
menjadi dua golongan, yaitu:
a.
Faktor-faktor
fisiologis
b.
Faktor-faktor
psikologis
BAB II
PEMBAHASAN
A.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR
Belajar sebagai
proses atau aktivitas disyaratkan oleh banyak sekali hal-hal atau
faktor-faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak sekali macamnya,
terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Dan dapat diklasifikasikan
sebagai demikian:
a.
Faktor-faktor
yang berasal dari luar diri pelajar, dan ini masih lagi dapat digolongkan
menjadi dua golongan, dengan catatan
bahwa overlapping tetap ada, yaitu:
1.
Faktor-faktor
nonsosial
2.
Faktor-faktor
sosial
b. Faktor-faktor
yang berasal dari dalam diri si pelajar, dan inipun dapat lagi digolongkan
menjadi dua golongan, yaitu:
1.
Faktor-faktor
fisiologis
2.
Faktor-faktor
psikologis
1.
Faktor-faktor
Nonsosial Dalam Belajar
Kelompok faktor-faktor ini boleh dikatakn juga tak terbilang
jumlahnya, seperti misalnya: keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu (pagi,
siang ataupun malam), tempat (letaknya, pergedungannya), alat-alat yang dipakai
untuk belajar (seperti alat tulis menulis, buku-buku, alat-alat peraga, dan
sebagainya yang bisa kita sebut alat-alat pelajaran).
Semua faktor-faktor yang telah disebutkan di atas itu, dan juga
faktor-faktor lain yang belum disebutkan harus kita atur sedemikian rupa,
sehingga dapat membantu (menguntungkan) proses/perbuatan belajar secara
maksimal. Letak sekolah atau tempat belajar misalnya harus memenuhi
syarat-syarat seperti di tempat yang tidak terlalu dekat kepada kebisingan atau
jalan ramai, lalu bangunan itu harus memenuhi syarat-syarat yang telah
ditentukan dalam ilmu kesehatan sekolah.
Demikian pula alat-alat pelajaran harus seberapa mungkin diusahakan untuk
memenuhi syarat-syarat menurut pertimbangan didaktis, psikologis dan
paedagogis.
2.
Faktor-faktor
Sosial Dalam Belajar
Yang dimaksud faktor-faktor sosial disini adalah faktor manusia
(sesama manusia), baik manusia itu ada maupun kehadirannya itu dapat
disimpulkan, jadi tidak langsung hadir. Kehadiran yang langsung banyak sekali
faktor yang mengganggu belajar salah satunya kalaun satu kelas murid sedang
mengerjakan ujian, lalu terdengar banyak anak-anak lain bercakap-cakap disamping kelas. Kehadiran tidak
langsung atau dapat disimpulkan
keahdirannya, misalnya saja suara nyanyian yang sedang dihidangkan lewat radio
maupun tape recorder juga dapat merupakan representasi bagi kehadiran sesorang.
Biasanya faktor-faktor tersebut mengganggu konsentrasi, sehingga perhatian
tidak dapat ditunjukkan kepada hal yang dipelajari. Dengan berbagai cara
faktor-faktor tersebut harus diatur, supaya belajar dapat berlangsung dengan
sebaik-baiknya.
3.
Faktor-faktor
Fisiologis Dalam Belajar
Faktor-faktor fisiologis ini masih bisa dibedakan menjadi dua
macam, yaitu:
a)
Tonus
jasmani pada umumnya
b)
Keadaan-fungsi-fungsi
fisiologis tertentu
A.
Keadaan
Tonus Jasmani Pada Umumnya
Keadaan tonus jasmani pada umumnya ini dapat diaktakan melatar
belakangi aktivitas belajar; keadaan jasmani yang kurang segar; keadaan jasmani
yang lelah lain pengaruhnya daripada yang tidak lelah. Dalam hubungan dengan
hal ini ada dua hal yang perlu dikemukakan .
1)
Nutrisi
harus cukup karena kekurangan kadar makanan ini akan mengakibatakan kurangnya
tonus jasmani, yang pengaruhnya dapat berupa kelesuan, lekas mengantuk, lekas
lelah dan sebaginya. Terlebih-lebih bagi anak-anak yang masih sangat muda,
pengaruh itu besar sekali. Hasil –hasil penyelidikan Danziger, Paul Lazarsfeld,
Netschareffe, Else Liefmann, S. Holingworth, Baldwin yang dikutip oleh Ch.
Buhler (1950: 105-112) kiranya dapat merupakan ilustrasi yang sangat berharga.
2)
Beberapa
penyakit yang kronis sangat mengganggu belajar itu. Penyakit-penyakit seperti
filek, influenza, sakit gigi, batuk dan yang sejenis dengan itu bisanya
diabaikan karena dipandang tidak cukup serius untuk mendapatkan perhatian dan
pengobatan; akan tetapi dalam kenyataannya penyakit-penyakit semacam ini sangat
mengganggu aktivitas belajar itu.
4.
Faktor-faktor psikologis
Belajar pada hakikatnya adalah
proses psikologis.Oleh karena itu,semua keadaan dan fungsi psikologis tentu
saja mempengaruhi belajar seseorang,seperti:
a.
Minat
Suatu rasa lebih suka dan rasa keterkaitan pada suatu hal atau
aktivitas.
b.
Kecerdasan
c.
Bakat
Kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang perlu dikembangkan dan
perlu dilatih lagi.
d.
Motivasi
Kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu.
e.
Kemampuan
kognitif
Kemampuan yang selalu dituntut kepada anak didik untuk
dikuasai.Karena penguasaan kemampuan pada tingkatan ini menjadi dasar bagi
penguasaan ilmu pengetahuan.
B.
Keadaan Fungsi-fungsi Jasmani Tertentu Terutam Fungsi-fungsi
Pancaindera.
Pancaindera dapat dimisalkan sebagai pintu gerbang masuknya
pengaruh ke dalam individu. Orang mengenal dunia sekitarnya dan belajar dengan
menggunakn pancainderanya. Baiknya berfungsi pancaindera merupakan syarat
dapatnya belajr itu berlangsung dengan baik. Dalam sistem persekolahan dewasa
ini diantara pancaindera itu yang paling
memgang peranan dalam belajar adalah mata dan telinga. Karena itu adalah
menjadi kewajiban bagi setiap pendidik untuk menjaga, agar pancaindera anak didiknya
dapat berfungsi dengan baik, baik penjagaan yang bersifat kuratif, maupun yang
bersifat preventif, seperti misalnya, ada pemeriksaan dokter secara periodik,
penyediaan alat pelajaran serta perlengakpan yang memenuhi syarat, dan
penempatan murid-murid secara baik dikelas.
5.
Faktor-faktor
Psikologi Dalam Belajar
Ada perlunya memberikan perhatian khusus kepada salah satu hal,
yaitu hal yang mendorong aktivitas belajar itu, hal yang merupakan alasan
dilakukannya pebuatan belajar itu. Arden N. Frandsen mengatakan bahwa hal yang
mendorong seseorang untuk belajar itu adalah sebagi berikut:
-
Adanya
sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas
-
Adanya
sifat yang kreatif yang ada pada manusia
dan keinginan untuk selalu maju
-
Adanya
keinginnan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru dan teman-teman
-
Adanya
keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik
dengan koperasi maupun kompetisi
-
Adanya
keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran
-
Adanya
ganjaran atau hukuman sebagai akhir daripada belajar.
Maslow
memgemukakan motif-motif untuk belajar itu adalah:
-
Adanya
kebutuhan fisik
-
Adanya
kebutuhan akan ras aman, bebas dari kehawatiran
-
Adanya
kebutuhan akan kecintaan dan penerimaan dalam hubungan dengan orang lain
-
Adanya
kebutuhan untuk mendapat kehormatan dari masyarakat
-
Sesuai
dengan sifat untuk mengemukakan atau mengetengahkan diri.
Apa yang telah dikemukakan itu hanyalah sekedar penyebutan sejumlah
kebutuhan-kebutuhan saja, yang tentu saja dapat ditambah lagi;
kebutuhan-kebutuhan tersebut tidaklah lepas satu sama lain, melainkan sebagai
suatu keseluruhan (kompleks) mendorong belajarnya anak. Kompleks
kebutuhan-kebutuhan anak itu sifatnya individual, berbeda dari anak yang satu
ke anak yang lainnya. Pendidik seberapa dapat haruslah berusaha mengenal
kebutuhan yang mana yang terutama dominan pada anak didiknya.
Selanjutnya suatu pendorong yang biasanya besar pengaruhnya dalam
belajarnya anak-anak didik kita ialah cita-cita. Cita-cita merupakan pusat dari
bermacam-macam kebutuhan, artinya kebutuhan-kebutuhan biasanya
disentralisasikan di sekitar cita-cita itu, sehingga dorongan tersebut mampu
memobilisasikan energi psikis untuk belajar. Pada anak-anak yang masih sangat
muda biasanya masih belum benar-benar menyadari cita-citanya yang sebenarnya;
karena itulah mereka perlu dibuatkan tujuan-tujuan sementara yang dekat-sebagi
cita-cita sementara- supaya hal ini merupakan motif pendorong yang cukup kuat
bagi belajarnya anak-anak itu.
C.
HASIL BELAJAR PAI
HAKIKAT HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Definisi belajar banyak dikemukakan oleh para ahli psikologi pendidikan.
Mereka memberikandefinisi belajar yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang
masing-masing. Gagnemendefinisikan belajar sebagai hasil dari interaksi antara
individu dengan lingkungannya (Gagne& Driscoll, 1989 :21). Gagne (dalam
Bigge, 1982 :141) mendefinisikan belajar sebagai perubahan dalam perilaku
dan keterampilan manusia yang dapat dipakai, dan bukan dianggap berasal dari
proses pertumbuhan. Gagne memandang belajar sebagai proses perubahan
perilakuakibat pengalaman yang dialaminya.Perubahan perilaku tersebut meliputi:
(1) informasi verbal, yaitu kemampuan untuk mengungkapkan pengetahuan
dalam bentuk bahasa lisan maupun tertulis. (2) keterampilanintelektual, yaitu
kemampuan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup
sertamempersentasekan konsep dan lambing. Keterampilan intelektual ini terdiri
dari diskriminasi jamak,dan konsep konkrit,serta prinsip; (3) strategi kognitif,
yaitu kemampuan untuk menyalurkan dan mengarahkan aktifitas berfikir untuk
memecahkan masalah. (4) keterampilanmotorik, yaitu kemampuan melakukan
serangkaian gerak jasmani dalm melakukan sesuatusecara terkoordinasi. Sehingga
terwujud otomatisasi gerak jasmani; dan (5) sikap, yaitukemampuan menerima atau
menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.Kelima kemempuan
ini merupakan hasil interaksi antara kondisi internal siswa yang
berupa potensi belajar dengan kondisi eksternal yang berupa rangsangan
dari lingkungan melalui proseskognitif siswa.Sedangkan hasil belajar
didefinisikan oleh Romiszowski (1981 : 63) sebagai output (keluaran)dari suatu
sistem pemrosesan input (masukan). Input dapat berupa berbagai informasi
sedangkanoutput berupa performance (kinerja). Pengetahuan dikelompokan pada
empat kategori yaitu: (1)Fakta, merupakan pengetahuan tentang objek nyata,
hubungan dari keyataan, dan informasiverbal dari suatu objek, peristiwa atau
manusia. (2) Konsep, merupakan pengetahuan tentangseperangkat objek konkrit
atau defenisi. (3) Prosedur, merupakan pengetahuan tentang tindakandemi
tindakan yang bersifat linier dalam mencapai suatu tujuan,dan (4) Prinsip,
merupakan pernyataan yang mengenai hubungan dari dua konsep atau
lebih.Bloom seperti yang dikutip Anita Woolfolk (tth:102) mengklasifikasikan
hasil belajar dalam tigaranah yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Ranah kognitif terbagi dalam 6 tingkatanyaitu ingatan, pemahaman, aplikasi,
analisis, evaluasi, dan kreativitas. Ranah afektif terbagimenjadi 5 tingkatan
yaitu penerimaan, penanggapan, penghargaan, pengorganisasian,
dan penjatidirian. Ranah psikomotorik terbagi menjadi 4 tingkatan yaitu
peniruan, manipulasi,artikulasi, dan pengalamiahan. Sedangkan Anderson telah
merevisi ketiga ranah dari Bloomtersebut ke dalam 4 (empat) domain pengetahuan,
yakni fakta, konsep, prosedur, dan meta-kognitif. (Anderson, 2001:28)Dalam
Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Pendidikan Agama Islam di
sekolahumum, dijelaskan bahwa pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk
menyiapkan siswadalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama
Islam melalui kegiatan bimbingan, pembelajaran, atau latihan dengan
memperhatikan tuntutan untuk menghormatiagama lain dalam hubungan kerukunan antar
umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional
(Muhaimin, 2001 : 75)Rumusan tujuan PAI ini mengandung pengertian bahwa proses
pendidikan agama Islam yangdilalui dan dialami oleh siswa di sekolah dimulai
dari tahapan kognisi, yakni pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap
ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam, untuk
selanjutnya menuju ke tahapan afeksi, yakni terjadinya proses internalisasi
ajaran dan nilaiagama ke dalam diri siswa, dalam arti menghayati dan meyakininya.
Tahapan afeksi ini terkaiterat dengan kognisi, karena penghayatan dan keyakinan
siswa akan menjadi kokoh jika dilandasioleh pengetahuan dan pemahamannya
terhadap ajaran dan nilai agama Islam. Melalui tahapanafeksi tersebut
diharapkan dapat tumbuh motivasi dalam diri siswa dan tergerak
untuk mengamalkan dan menaati ajaran Islam (sebagai tahapan psikomotorik)
yang telahdiinternalisasikan dalam dirinya. Dengan demikian, akan terbentuk
manusia muslim yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.Dari penjelasan
di atas dapat ditemukan beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam pembelajaran pendidikan Agama Islam, yaitu :1. Pendidikan agama
Islam sebagai usaha sadar yakni suatu kegiatan bimbingan, pembelajaran,atau
latihan yang dilakukan secara berencana dan sadar atas tujuan yang hendak
dicapai.2. Peserta didik yang hendak disiapkan untuk mencapai tujuan dalam arti
ada yang dibimbing,Dibelajarkani, atau dilatih dalam peningkatan keyakinan,
pemahaman, penghayatan, dan pengamalan terhadap ajaran Islam.3. Pendidik
atau Guru PAI yang melakukan kegiatan bimbingan, pembelajaran atau
latihansecara sadar terhadap peseta didiknya untuk mencapai tujuan pendidikan
Agama Islam.4. Kegiatan pembelajaran PAI yang diarahkan untuk meningkatkan
keyakinan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama Islam dari
peserta didiknya.Untuk mencapai tujuan mulia tersebut, maka ruang lingkup
Pendidikan Agama Islam dibagidalam 5 (lima) unsur pokok berdasarkan kurikulum
tahun 1999 hingga sekarang (kurikulum2006), yaitu : Al-Qur¶an, keimanan,
akhlak, fiqih dan bimbingan ibadah, serta tarikh/sejarahyang lebih menekankan
pada perkembangan ajaran agama, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.Dari 5 unsur
pokok tersebut sebaiknya dikembangkan dalam sistem evaluasi pendidikan
AgamaIslam karena dengan demikian akan diperoleh kemampuan atau keberhasilan
individu dalammengetahui, memahami, mengamalkan ajaran Islam secara tepat.
TUJUAN DAN SASARAN PENDIDIKAN ISLAM*
Disusun Guna Memenuhi Tugas Dalam Mata Kuliah Ushul at-Tarbiyyah Yang
Diampu OlehSupriyanto Pasir, MA. Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia
Oleh Khorirur Rijal Luthfi dan Mohammad Agus Khoirul Wafa
A.
Pendahuluan
Islam sangat mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan
berkualitas,individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya
memunculkan kehidupan sosialyang bermoral. Sayangnya, sekalipun
institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas danfasilitas, namun
institusi-institusi tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang beradab.
Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia
yang beradab, terabaikan dalam tujuan institusi pendidikan.Penekanan
kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan,spiritual
dan moralitas seperti terabaikan. Bahkan kondisi sebaliknya yang terjadi. Saat
ini, banyak institusi pendidikan telah berubah menjadi industri bisnis,
yang memiliki visi dan misiyang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk
melahirkan individu-individu pragmatis yang bekerja untuk meraih
kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan
dan Negara. Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai
sebuahinvestasi. Gelar dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan
secepatnya diraih supaya modalyang selama ini dikeluarkan akan menuai
keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini sekalipunakan memproduksi anak didik
yang memiliki status pendidikan yang tinggi, namun statustersebut tidak akan
menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab. Pendidikan
yang bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari
paradigma pendidikanBarat yang sekular.Dalam budaya Barat sekular, tingginya
pendidikan seseorang tidak berkorespondensidengan kebaikan dan kebahagiaan
individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap
kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim memiliki pendidikan
yang tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum menjadi
Muslim-Muslimyang baik dan berbahagia. Masih ada kesenjangan antara tingginya
gelar pendidikan yang diraihdengan rendahnya moral serta akhlak kehidupan
Muslim. Ini terjadi disebabkan visi dan misi
pendidikan yang pragmatis. Sebenarnya, agama Islam memiliki tujuan
yang lebih komprehensif dan integratif dibanding dengan sistem pendidikan
sekular yang semata-mata menghasilkan paraanak didik yang memiliki paradigma
yang pragmatis.Dalam makalah ini penulis berusaha menggali dan mendeskripsikan
tujuan dan sasaran pedidikan dalam Islam secara induktif dengan melihat
dalil-dalil naqli yang sudah ada dalam al-Qur¶an maupun al-Hadits, juga
memadukannya dalam konteks kebutuhan dari masyarakat secaraumum dalam
pendidikan, sehingga diharapkan tujuan dan sasaran pendidikan dalam Islam
dapatdiaplikasikan pada wacana dan realita kekinian.
B.
PembahasanB.1. Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam
Memang tidak diragukan bahwa ide mengenai prinsip-prinsip dasar pendidikan
banyak tertuang dalam ayat-ayat al Qur¶an dan hadits nabi. Dalam hal ini
akan dikemukakan ayat ayatatau hadits hadits yang dapat mewakili dan mengandung
ide tentang prinsip prinsip dasar tersebut, dengan asumsi dasar, seperti
dikatakan an Nahlawi bahwa pendidikan sejati atau maha pendidikan itu
adalah Allah yang telah menciptakan fitrah manusia dengan segala potensi dankelebihan
serta menetapkan hukum hukum pertumbuhan, perkembangan, dan
interaksinya,sekaligus jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuannya.
Prinsip prinsip tersebut adalahsebagai berikut:[1]
Pertama
, Prinsip Integrasi. Suatu prinsip yang seharusnya dianut adalah bahwa
dunia inimerupakan jembatan menuju kampung akhirat. Karena itu, mempersiapkan
diri secara utuhmerupakan hal yang tidak dapat dielakkan agar masa kehidupan di
dunia ini benar benar bermanfaat untuk bekal yang akan dibawa ke
akhirat. Perilaku yang terdidik dan nikmat Tuhanapapun yang didapat dalam
kehidupan harus diabdikan untuk mencapai kelayakan kelayakan ituterutama dengan
mematuhi keinginan Tuhan. Allah Swt Berfirman, ³
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) kampung akhirat, dan janganlah kanumelupakan kebahagiaanmu dari
kenikmatan duniawi
...´ (QS. Al Qoshosh: 77). Ayat inimenunjukkan kepada prinsip integritas di
mana diri dan segala yang ada padanya dikembangkan pada satu arah, yakni
kebajikan dalam rangka pengabdian kepada Tuhan.
Kedua,
Prinsip Keseimbangan. Karena ada prinsip integrasi, prinsip
keseimbanganmerupakan kemestian, sehingga dalam pengembangan dan pembinaan
manusia tidak adakepincangan dan kesenjangan. Keseimbangan antara material dan
spiritual, unsur jasmani danrohani. Pada banyak ayat al-Qur¶an Allah
menyebutkan iman dan amal secara bersamaan. Tidak kurang dari enam puluh
tujuh ayat yang menyebutkan iman dan amal secara besamaan, secaraimplisit
menggambarkan kesatuan yang tidak terpisahkan. Diantaranya adalah QS. Al µAshr:
1-3,³
Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian kecuali mereka yang
beriman dan beramal sholeh.
´ .
Ketiga,
Prinsip Persamaan. Prinsip ini berakar dari konsep dasar tentang manusia
yangmempunyai kesatuan asal yang tidak membedakan derajat, baik antara jenis
kelamin, kedudukansosial, bangsa, maupun suku, ras, atau warna kulit. Sehingga
budak sekalipun mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan. Nabi Muhammad
Saw bersabda
³Siapapun di antara seorang laki laki yang mempunyai seorang
budak perempuan, lalu diajar dan didiknya dengan ilmu dan pendidikan
yang baik kemudiandimerdekakannya lalu dikawininya, maka (laki laki) itu
mendapat dua pahala´
(HR.Bukhori).
Keempat,
Prinsip Pendidikan Seumur Hidup. Sesungguhnya prinsip ini bersumber
dari pandangan mengenai kebutuhan dasar manusia dalam kaitan keterbatasan
manusia di manamanusia dalam sepanjang hidupnya dihadapkan pada berbagai
tantangan dan godaan yang dapatmenjerumuskandirinya sendiri ke jurang kehinaan.
Dalam hal ini dituntut kedewasaan manusia berupa kemampuan untuk mengakui
dan menyesali kesalahan dan kejahatan yang dilakukan,disamping selalu
memperbaiki kualitas dirinya. Sebagaimana firman Allah, ³
Maka siapa yang bertaubat sesuadah kedzaliman dan memperbaiki
(dirinya) maka Allah menerima taubatnya
....´(QS. Al Maidah: 39).
Kelima,
Prinsip Keutamaan. Dengan prinsip ini ditegaskan bahwa pendidikan
bukanlahhanya proses mekanik melainkan merupakan proses yang mempunyai ruh
dimana segalakegiatannya diwarnai dan ditujukan kepada keutamaan-keutamaan.
Keutamaan-keutamaan
tersebut terdiri dari nilai nilai moral. Nilai moral yang paling tinggi
adalah tauhid. Sedangkannilai moral yang paling buruk dan rendah adalah syirik.
Dengan prinsip keutamaan ini, pendidik bukan hanya bertugas
menyediakan kondisi belajar bagi subjek didik, tetapi lebih dari itu
turutmembentuk kepribadiannya dengan perlakuan dan keteladanan yang ditunjukkan
oleh pendidik tersebut. Nabi Saw bersabda, ³
H
argailah anak anakmu dan baikkanlah budi pekerti mereka
,´(HR. Nasa¶i).
B.2. Mekanisme Pendidikan Islam
Mengenai mekanisme dalam menjalankan pendidikan Islam Dalam karyanya
Tahdzibul Akhlak
, Ibnu Miskawaih mengatakan bahwa syariat agama memiliki peran penting
dalammeluruskan akhlak remaja, yang membiasakan mereka untuk melakukan
perbuatan yang baik,sekaligus mempersiapkan diri mereka untuk menerima
kearifan, mengupayakan kebajikan danmencapai kebahagiaan melalui berpikir dan
penalaran yang akurat. Orang tua memilikikewajiban untuk mendidik mereka agar
mentaati syariat ini, agar berbuat baik. Hal ini dapatdijalankan melalui
al
-
mau¶izhah
(nasehat),
al
-
dharb
(dipukul) kalau perlu,
al
-
taubikh
(dihardik),diberi janji yang menyenangkan atau
tahdzir
(diancam) dengan
al
-µ
uqubah
(hukuman).[2] (konsep uqubah dalam
Islam)Akan tetapi, Berbeda dengan beberapa pandangan teori di atas, Ibnu
Khaldun justru berpandangan sebaliknya. Ia mengatakan bahwa kekerasan
dalam bentuk apapun seharusnyatidak dilakukan dalam dunia pendidikan. Karena
dalam pandangan Ibnu Khaldun, penggunaankekerasan dalam pengajaran dapat
membahayakan anak didik, apalagi pada anak kecil,kekerasan merupakan bagian
dari sifat-sifat buruk. Disamping itu, Ia juga menambahkan bahwa perbuatan
yang lahir dari hukuman tidak murni berasal dari keinginan dan kesadaran anak
didik.Itu artinya pendidikan dengan metode ini juga sekaligus akan membiasakan
seseorang untuk berbohong dikarenakan takut dengan hukuman.[3]
B.3. Tujuan dan Sasaran Pendidikan Islam
Salah satu aspek
penting dan mendasar dalam pendidikan adalah aspek tujuan. Merumuskan tujuan
pendidikan merupakan syarat mutlak dalam mendefiniskan pendidikan itu sendiri
yang paling tidak didasarkan atas konsep dasar mengenai manusia, alam, dan ilmu
serta dengan pertimbangan prinsip prinsip dasarnya. Hal tersebut disebabkan
pendidikan adalah upaya yang paling utama, bahkan satu satunya untuk membentuk
manusia menurut apa yang dikehendakinya. Karena itu menurut para ahli
pendidikan, tujuan pendidikan pada hakekatnya merupakan rumusan-rumusan dari
berbagai harapan ataupun keinginan manusia. Maka dari itu berdasarkan
definisinya, Rupert C. Lodge dalam philosophy of education menyatakan
bahwa dalam pengertian yang luas pendidikan itu menyangkut seluruh pengalaman.
Sehingga dengan kata lain, kehidupan adalah pendidikan dan pendidikan adalah
kehidupan itu.
Sedangkan Joe Pack
merumuskan pendidikan sebagai “the art or process of imparting
or acquiring knomledge and habit through instructional as study”. Dalam
definisi ini tekanan kegiatan pendidikan diletakkan pada pengajaran
(instruction), sedangkan segi kepribadian yang dibina adalah aspek kognitif dan
kebiasaan. Theodore Meyer Greene mengajukan definisi pendidikan yang
sangat umum. Menurutnya pendidikan adalah usaha manusia untuk menyiapkan
dirinya untuk suatu kehidupan yang bermakna. Alfred North Whitehead menyusun
definisi pendidikan yang menekankan segi ketrampilan menggunakan
pengetahuan. Untuk itu, pengertian pendidikan secara umum, yang kemudian dihubungkan
dengan Islam sebagai suatu sistem keagamaan menimbulkan pengertian pengertian
baru yang secara implisit menjelaskan karakteristik-karakteristik yang
dimilikinya.
Pengertian pendidikan
dengan seluruh totalitasnya, dalam konteks Islam inheren salam konotasi istilah
Tarbiyah, Ta’lim dan Ta’dib yang
harus dipahami secara bersama-sama. Ketiga istilah itu mengandung makna yang
amat dalam menyangkut manusia dan masyarakat serta lingkungan yang dalam
hubungannya dengan Tuhan saling berkaitan satu sama lain. Istilah istilah itu
sekaligus menjelaskan ruang lingkup pendidikan Islam; informal, formal, dan
nonformal. Ghozali melukiskan tujuan pendidikan sesuai dengan pandangan
hidupnya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu sesuai dengan
filsafatnya, yakni memberi petunjuk akhlak dan pembersihan jiwa dengan
maksud di balik itu membentuk individu-individu yang tertandai dengan
sifat-sifat utama dan takwa. Dengan ini pula keutamaan itu akan merata dalam masyarakat.
Hujair AH. Sanaky menyebut istilah tujuan pendidikan Islam dengan visi dan misi pendidikan
Islam. Menurutnya sebenarnya pendidikan Islam telah memiki visi dan misi yang ideal,
yaitu Rahmatan Lil ‘Alamin.
Selain itu, sebenarnya
konsep dasar filosofis pendidikan Islam lebih mendalam dan menyangkut persoalan
hidup multi dimensional, yaitu pendidikan yang tidak terpisahkan dari tugas
kekhalifahan manusia, atau lebih khusus lagi sebagai penyiapan kader-kader
khalifah dalam rangka membangun kehidupan dunia yang makmur,dinamis, harmonis
dan lestari sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam al-Qur’an. Pendidikan Islam
adalah pendidikan yang ideal, sebab visi dan misinya adalah Rahmatan Lil ‘Alamin,
yaitu untuk membangun kehidupan dunia yang yang makmur, demokratis, adil,
damai, taathukum, dinamis, dan harmonis. Munzir Hitami berpendapat bahwa tujuan
pendidikan tidak terlepas dari tujuan hidup manusia, biarpun dipengaruhi oleh
berbagai budaya, pandangan hidup, atau keinginan-keinginan lainnya. Bila
dilihat dari ayat-ayat al-Qur’an ataupun hadits yang mengisyaratkan tujuan
hidup manusia yang sekaligus menjadi tujuan pendidikan, terdapat beberapa macam
tujuan, termasuk tujuan yang bersifat teleologik itu sebagai berbau mistik
dan takhayul dapat dipahami karena mereka menganut konsep konsep ontologi
positivistik yang mendasar kebenaran hanya kepada empiris sensual, yakni
sesuatu yang teramati dan terukur. Qodri Azizy menyebutkan batasan tentang
definisi pendidikan agama Islam dalam dua hal, yaitu; a) mendidik peserta didik
untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai atau akhlak Islam; b) mendidik
peserta didik untuk mempelajari materi ajaran Islam. Sehingga
pengertian pendidikan agama Islam merupakan usaha secara sadar dalam
memberikan bimbingan kepada anak didik untuk berperilaku sesuai dengan ajaran
Islam dan memberikan pelajaran dengan materi-materi tentang pengetahuan Islam.
Kesimpulan
Dari beberapa uraian
yang telah penulis kemukakan dari beberapa pendapat para tokoh pendidikian
Islam bahwa pendidikan pada dasarnya memiliki beberapa tujuan. Tujuan yang terpenting
adalah pembentukan akhlak objek didikan sehingga semua tujuan pendidikan dapat dicapai
dengan landasan moral dan etika Islam, yang tentunya memiliki tujuan
kemashlahatan didalam mencapai tujuan tersebut. Mengenai mekanisme
pelaksanaanya, hal ini tentunya memerlukan kajian yang lebih mendalam sehingga
nantinya implementasi dari teori tersebutdapat dipertanggungjawabkan dan
dipandang relevan dengan kondisi yang terikat dengan faktor-faktor tertentu.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Ada perlunya memberikan perhatian khusus kepada salah satu hal,
yaitu hal yang mendorong aktivitas belajar itu, hal yang merupakan alasan
dilakukannya pebuatan belajar itu. Arden N. Frandsen mengatakan bahwa hal yang
mendorong seseorang untuk belajar itu adalah sebagi berikut:
-
Adanya
sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas
-
Adanya
sifat yang kreatif yang ada pada manusia
dan keinginan untuk selalu maju
-
Adanya
keinginnan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru dan teman-teman
-
Adanya
keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik
dengan koperasi maupun kompetisi
-
Adanya
keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran
-
Adanya
ganjaran atau hukuman sebagai akhir daripada belajar.
DAFTAR PUSTAKA